Delayed Gratification: Seni Menunda Kepuasan, Meraih Berkah Ramadan
Halo DC Buddies!
Nggak terasa, sebentar lagi kita bakal masuk ke bulan Ramadhan. Siapa nih yang udah nggak sabar menyambut bulan suci ini? Kalau Minsi sih, excited banget! Eh, kalian pernah dengar nggak soal delayed gratification? Itu lho, seni menunda kepuasan. Tapi, coba deh pikir-pikir lagi, di zaman serba cepat kayak sekarang, siapa sih yang nggak pengen semuanya serba instan? Mulai dari makanan sampai informasi, semua serba kilat!
Padahal, di bulan Ramadan ini, kemampuan menunda kepuasan justru jadi kunci, lho! Kita belajar menahan lapar, haus, dan segala hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Tapi sebenarnya, delayed gratification ini nggak cuma soal puasa aja. Ada hubungannya sama psikologi dan bisa banget bantu kita dalam kehidupan sehari-hari.
Kira-kira, gimana sih caranya menerapkan delayed gratification dengan asyik selama Ramadan? Dan kenapa ini penting banget buat kita? Yuk, simak bareng-bareng pembahasan seru ini, siapa tahu bisa bikin Ramadan kalian makin berkah dan bermakna!
Apa Itu Delayed Gratification?
Delayed gratification merupakan kemampuan menunda kepuasan adalah kemampuan seseorang untuk menahan diri dari mengambil hadiah atau kesenangan yang bisa didapat sekarang, dengan untuk bersabar dan fokus pada tindakan yang akan memberi hadiah yang lebih besar atau lebih baik di masa depan (Mischel et al. 1989). Dalam hal ini, umat muslim menunda keinginannya untuk makan, minum, dan berbuat segala hal yang dapat membatalkan puasa demi meraih keberkahan dari Allah Swt.
Penjelasan Psikologis Lewat Marshmallow Experiment
Pada tahun 1970-an, psikolog Walter Mischel melakukan penelitian untuk membuktikan delayed gratification menggunakan metode yang disebut Marshmallow Experiment. Penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan 1 butir marshmallow pada anak-anak dan mengatakan bahwa jika sang anak sabar menunggu 15 menit lagi maka akan mendapat 2 marshmallow kesukaannya. Tentu itu situasi yang sulit bagi anak-anak yang sangat suka makanan manis.
Hasil dari eksperimen ini menunjukkan bahwa anak-anak yang mampu menunda kepuasan mereka cenderung memiliki kehidupan yang lebih sukses dalam jangka panjang, termasuk prestasi akademik yang lebih baik, keterampilan sosial yang lebih tinggi, dan kontrol diri yang lebih baik. Hasil dari eksperimen ini yang pada akhirnya membuktikan teori tentang delayed gratification.
Coba deh bayangin kalau udah waktunya buka puasa, Buddies harus nunggu 10 menit lagi buat makan makanan kesukaan Buddies. Kira-kira bakal sabar nunggu 10 menit, atau makan camilan yang lain dulu tuh?
Latihan Delayed Gratification dalam Skala Besar dengan Puasa Ramadan
Puasa Ramadan adalah contoh nyata dari delayed gratification yang dijalani oleh jutaan umat muslim di seluruh dunia. Seperti dalam Marshmallow Experiment, puasa mengajarkan kita bahwa dengan menunda kepuasan sesaat, kita bisa meraih manfaat yang lebih besar. Bukan hanya berupa hidangan lezat saat berbuka, tetapi juga keberkahan spiritual, peningkatan kesabaran, dan pengendalian diri yang lebih kuat. Proses ini membantu kita memahami bahwa kepuasan yang ditunda sering kali membawa kebahagiaan yang lebih mendalam dan bermakna.
Apa Saja Faktor yang Memengaruhi Delayed Gratification?
DC Buddies tau nggak? Penelitian lanjutan dari Marshmallow Experiment menunjukkan kalau anak-anak yang sabar nunggu marshmallow lebih sukses ketika dewasa. Mulai dari nilai sekolah yang lebih bagus, sampai punya hubungan sosial yang lebih baik. Penelitian ini mengungkap berbagai faktor yang memengaruhi kemampuan menunda kepuasan (delayed gratification) dan dampaknya dalam aspek kehidupan.
- Faktor Pengasuhan Orang Tua
Pola asuh orang tua memiliki peranan penting dalam tumbuh kembang remaja. Kesabaran dan penanaman nilai agama sejak dini berperan besar dalam mengembangkan kemampuan menunda kepuasan pada anak.
- Resiliensi dan Stres
Studi kasus ini menyoroti kemampuan akademik siswa atau mahasiswa dengan kemampuan menunda kepuasan tinggi cenderung memiliki kinerja akademik yang lebih baik meski berada di bawah tekanan.
- Strategi Kognitif dan Regulasi Emosi
Mengalihkan perhatian atau mengubah perspektif terhadap godaan, merupakan bentuk penggunaan strategi kognitif dalam menunda kepuasan. Misalnya ketika merasa lapar dan tergoda untuk membeli makanan di pinggir jalan, bisa dialihkan dengan tidur, belajar, atau melakukan hobi.
- Faktor Neurologis
Pada studi neuroimaging menunjukkan bahwa aktivitas di area tertentu pada otak, seperti prefrontal cortex dan ventral striatum, berperan untuk menunda kepuasan pada diri seseorang. Koneksi yang lebih kuat antar bagian ini menciptakan kontrol diri yang baik untuk menunda kepuasan.
Menerapkan Delayed Gratification Setelah Ramadan
Apakah setelah Ramadan berakhir, kita melupakan delayed gratification? Tentu jangan, dong! Setelah Ramadan berakhir, keterampilan menunda kepuasan ini bisa diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam bekerja, kita bisa lebih fokus pada tujuan jangka panjang daripada hasil instan. Dalam hubungan sosial, kita belajar untuk lebih sabar dan tidak mudah terpancing emosi. Bahkan dalam pengelolaan keuangan, delayed gratification membantu kita menabung dan merencanakan masa depan dengan lebih bijak.
Bayangkan kamu lagi nabung buat beli gadget impian. Teman kamu goda buat beli HP lain yang lebih murah sekarang juga. Nah, pilihanmu di situ sama kayak anak-anak di Marshmallow Experiment. Sanggup nunggu buat sesuatu yang lebih baik atau tergoda ambil yang cepat?
Dengan memahami dan mempraktikkan seni menunda kepuasan, kita tidak hanya meraih keberkahan Ramadan, tetapi juga memperkaya kualitas hidup kita secara keseluruhan. Seperti anak-anak dalam Marshmallow Experiment, mereka yang mampu menahan diri akan menemukan bahwa hasil yang ditunggu dengan sabar sering kali jauh lebih manis.
Jadi, siap buat latihan delayed gratification mulai dari sekarang? Nggak cuma buat Ramadan, tapi juga buat hidup yang lebih sukses dan penuh berkah. Ingat, kadang yang paling manis itu yang kita tunggu dengan sabar!
Referensi:
- Ardianti, R. N. (2015). Penelitian Mengenai Kemampuan Menunda Kepuasan pada Anak Usia Prasekolah. Universitas Padjadjaran.https://doi.org/10.9000/unpad.v1i1.1​:contentReference[oaicite:1]{index=1}.
- Rahayu, S., Asbari, M., & Nurhayati, W. (2023). Delayed Gratification: Menahan Sedikit Kesenangan untuk Kebahagiaan Besar Jangka Panjang.Literaksi: Jurnal Manajemen Pendidikan,1(2), 114-117.https://doi.org/10.9000/literaksi.v1i2.1​:contentReference[oaicite:0]{index=0}.
- Rahardi, F., & Dartanto, T. (2021). Growth mindset, delayed gratification, and learning outcome: Evidence from a field survey of least-advantaged private schools in Depok-Indonesia.Heliyon, 7(4), e06681.https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2021.e06681​:contentReference[oaicite:0]{index=0}.\
- Sumiati, N. T., Mangunsong, F., & Guritnaningsih. (2021). Pendekatan Metode Naïve Bayes Classifier untuk Memprediksi Kemampuan Delay of Gratification Anak dengan Down Syndrome.Jurnal Psikologi Sains dan Profesi, 5(1), 66-79.https://doi.org/10.9000/jpsp.v5i1.1​:contentReference[oaicite:2]{index=2}
No responses yet