Siapkan perbekalanmu, kenyangkan rasa ingin tahumu!

Efek Media Sosial: Kepribadian dan Perilaku

DC Buddies harus tahu nih! Kalau di zaman sekarang kita gak bisa lepas dengan yang namanya handphone. Karena semua yang kita lakukan sangat membutuhkannya. Dari kegiatan belajar, mengerjakan pekerjaan, saat kita beraktivitas di luar ruangan seperti berolahraga, menjadi alat bayar saat bertransaksi dan untuk berkomunikasi dengan orang-orang terdekat kita.

DC Buddies tau gak sih? media sosial kini menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Pada tahun 2023, lebih dari 170 juta orang aktif menggunakan platform seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan TikTok. Kehadiran media sosial sangat memengaruhi cara orang berkomunikasi dan berinteraksi. Media sosial ini selain digunakan untuk berkomunikasi melalui telfon, DC Buddies juga dapat berkomunikasi melalui format teks, gambar, dan video.

Banyak nih generasi-generasi muda yang membuat video untuk bisa mengekpresikan dirinya dengan menunjukkan gaya hidup, cara mereka mempromosikan sesuatu, dan memperlihatkan kepribadian mereka melalui video-video yang singkat. Semua konten video yang DC Buddies pernah lihat memiliki pengaruh yang lebih besar dari yang kita sadari lho!

Bagi DC Buddies yang bertanya-tanya, apakah tayangan yang kita tonton benar-benar dapat membentuk kepribadian dan perilaku kita? dan seberapa besar efek media sosial dapat mempengaruhi kita? Minsi udah siapin nih, 5 teori menarik yang sudah Minsi rangkum tentang bagaimana media sosial dapat mempengaruhi kita. Yuk, simak penjelasannya sampai selesai!

  • Teori Kultivasi: Semakin Sering Ditonton, Semakin Tertanam

Sebelum Minsi jelasin inti dari Teori Kultivasi, DC Buddies harus tau dulu nih makna kata dari Kultivasi. Kultivasi diartikan sebagai suatu bentuk “penanaman”, di mana yang ditanam bukanlah tanaman melainkan gagasan atau pemahaman tertentu dalam benak khalayak. Dalam konteks ini, yang ditanam adalah persepsi tentang kekerasan akibat paparan media sosial yang berlebihan dan terus-menerus sehingga dapat mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku.

Teori Kultivasi dikembangkan oleh George Gerbner, yang menyatakan bahwa semakin sering seseorang terpapar pada suatu jenis media, semakin besar kemungkinan mereka menganggapnya sebagai realitas. Misalnya, seseorang yang sering menonton drama kriminal mungkin akan melihat dunia sebagai tempat yang lebih berbahaya dari kenyataannya. Efek ini secara perlahan mengubah cara kita memandang dunia dan membentuk kepribadian kita.

  • Teori Pembelajaran Sosial: Belajar dari Apa yang Kita Tonton

Albert Bandura, seorang psikolog terkenal, teori Bandura yang sangat terkenal adalah Teori Pembelajaran Sosial yang menekankan pada komponen kognitif dari pikiran, pemahaman, dan evaluasi. Teori ini menyatakan bahwa individu belajar melalui proses pengamatan, permodelan, dan peniruan orang lain dalam konteks sosial. Bandura juga menyatakan bahwa kita belajar dengan mengamati perilaku orang lain yang berada dalam karakter di film dan serial.

Bandura menyebutkan 4 peroses belajar meniru melalui pengamatan, yaitu atensi atau memperhatikan, retensi atau mengingat, memproduksi gerak motorik, dan pengulangan untuk jadi penguatan dan motivasi. Misalnya, jika seseorang sering menonton tayangan yang menampilkan karakter dengan sifat agresif atau manipulatif, mereka mungkin secara tidak sadar mulai meniru perilaku tersebut dalam kehidupan nyata. Sebaliknya, menonton karakter dengan nilai positif bisa mendorong perilaku yang lebih baik.

  • Efek Eksposur Berulang: Semakin Sering Terpapar, Semakin Kita Suka

Dalam psikologi, Efek Eksposur Berulang yang diperkenalkan oleh Robert B. Zajonc menjelaskan bahwa semakin sering kita melihat atau mendengar sesuatu, semakin kita cenderung menyukainya. Misalnya, lagu yang awalnya terasa biasa saja bisa menjadi favorit setelah beberapa kali mendengar. Hal yang sama berlaku untuk konsep, gaya hidup, atau nilai-nilai yang disajikan di media sosial. Semakin sering kita terpapar suatu ideologi atau gaya hidup tertentu, semakin besar kemungkinan kita menerimanya sebagai bagian dari diri kita.

  • Priming Effect: Tayangan Bisa Mengaktifkan Pola Pikir Tertentu

Priming Effect adalah fenomena psikologis di mana eksposur terhadap suatu stimulus mempengaruhi respons kita terhadap stimulus berikutnya. Priming Effect tidak hanya bergantung pada apakah suatu konsep baru saja, tetapi juga pada seberapa sering konsep tersebut dipriming sebelumnya. Dalam jangka pendek, recencylebih berpengaruh, tetapi dalam jangka panjang konsep yang sering dipriming lebih dominan. Misalnya, setelah menonton film bertema persaingan ketat, seseorang mungkin lebih kompetitif dalam interaksi sosial mereka. Media dapat memicu emosi dan pola pikir tertentu, yang akhirnya membentuk tindakan kita sehari-hari.

  • Efek Agenda-Setting: Media Menentukan Apa yang Kita Anggap Penting

Media tidak hanya memberikan informasi tetapi juga menentukan isu mana yang penting. Efek Agenda-Setting menunjukkan bahwa semakin sering suatu topik muncul di media sosial, semakin besar kemungkinan kita menganggapnya sebagai sesuatu yang relevan dan penting. Misalnya, jika media terus menyoroti gaya hidup sehat, maka banyak orang akan mulai memperhatikan pola makan dan kebugaran mereka.

Tayangan yang kita konsumsi memiliki peran besar dalam membentuk cara kita berpikir, merasa, dan bertindak. Dari bagaimana kita melihat dunia hingga bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain, media sosial berkontribusi dalam membentuk kepribadian kita. Oleh karena itu, kita perlu lebih bijak dalam memilih apa yang kita tonton, karena secara tidak sadar, konten yang kita konsumsi adalah bagian dari siapa kita.

Referensi:

  • Higgins, E. T., Bargh, J. A., & Lombardi, W. J. (1985). Nature of priming effects on categorization.Journal of experimental psychology: Learning, Memory, and Cognition, 11(1), 59.
  • Kumparan. (2024). Pengaruh Media Sosial Terhadap Perilaku Masyarakat Indonesia. Diakses 6 Februari 2025 dari https://kumparan.com/natanael-sinaga-1736679425179910518/pengaruh-media-sosial-terhadap-perilaku-masyarakat-indonesia-24RRpC8jEZh
  • McCombs, M. E., & Shaw, D. L. (1972). The agenda-setting function of mass media. Public opinion quarterly,36(2), 176-187.
  • Syafrizaldi, S. (2022). Teori Kultivasi dalam Perspektif Psikologi.Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS),4(3), 1905-1912.
  • Warini, S., Hidayat, Y. N., & Ilmi, D. (2023). Teori Belajar Sosial Dalam Pembelajaran.ANTHOR: Education and Learning Journal,2(4), 566-576.
  • Zajonc, R. B. (1968). Attitudinal effects of mere exposure.Journal of personality and social psychology,9(2p2), 1.

TAGS

CATEGORIES

Artikel

No responses yet

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *